Sejarah Proses Yesus Menjadi Tuhan: Perspektif Kajian Sejarah
Perdebatan mengenai kapan dan bagaimana Yesus dipahami sebagai Tuhan merupakan salah satu topik penting dalam kajian sejarah Kekristenan awal. Para sejarawan membedakan antara Yesus historis (The Historical Jesus)—tokoh yang hidup di Palestina abad pertama—dan Kristus iman (The Christ of Faith), yaitu Yesus sebagaimana dipahami dalam perkembangan teologi gereja.
1. Pengikut Awal Yesus Berasal dari Tradisi Monoteisme Yahudi
Hampir semua ahli sejarah sepakat bahwa Yesus dan para murid pertama adalah orang-orang Yahudi yang memegang teguh monoteisme berdasarkan Shema Yisrael:
"Dengarlah, hai Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa." (Ulangan 6:4)
Dalam konteks ini, Yesus pada awalnya dipahami sebagai guru, nabi, dan Mesias (Al-Masih) yang diutus Allah, bukan sebagai Allah itu sendiri.
2. Perkembangan Pemahaman tentang Yesus dalam Perjanjian Baru
Kajian kronologis terhadap kitab-kitab Perjanjian Baru menunjukkan adanya perkembangan teologi mengenai identitas Yesus.
- Injil Markus (sekitar 70 M), yang dianggap sebagai Injil tertua, menggambarkan Yesus terutama sebagai Mesias dan Anak Manusia.
- Matius dan Lukas (sekitar 80–90 M) mulai memberikan penekanan yang lebih tinggi terhadap kedudukan Yesus.
- Injil Yohanes (sekitar 90–100 M), yang ditulis paling akhir, memuat pernyataan-pernyataan dengan kristologi yang jauh lebih tinggi, seperti "Aku dan Bapa adalah satu."
Banyak pakar Perjanjian Baru, termasuk Bart D. Ehrman, James D. G. Dunn, Geza Vermes, dan Maurice Casey, berpendapat bahwa pemahaman mengenai keilahian Yesus berkembang secara bertahap di dalam komunitas Kristen setelah peristiwa penyaliban dan kebangkitan, bukan merupakan ajaran yang secara eksplisit dinyatakan oleh Yesus historis.
3. Catatan Sejarah Non-Kristen
Sumber-sumber non-Kristen abad pertama dan kedua memang mengakui keberadaan Yesus sebagai tokoh sejarah, tetapi tidak menggambarkannya sebagai Tuhan. Di antaranya adalah:
- Flavius Josephus (sekitar 93 M), yang menyebut Yesus sebagai seorang yang bijaksana dan dikenal sebagai Mesias.
- Cornelius Tacitus (sekitar 116 M), yang mencatat bahwa Kristus dihukum mati oleh Pontius Pilatus pada masa pemerintahan Tiberius.
Catatan-catatan tersebut menjadi bukti sejarah mengenai keberadaan Yesus, namun tidak memberikan kesaksian bahwa Ia dipandang sebagai Allah.
4. Tidak Ada Pernyataan Eksplisit Yesus Mengaku "Aku adalah Tuhan"
Dalam kajian Historical Jesus, banyak akademisi menyimpulkan bahwa tidak ditemukan ucapan eksplisit dari Yesus yang berbunyi:
"Aku adalah Tuhan. Sembahlah Aku."
Karena itu, sebagian besar sejarawan membedakan antara:
- Yesus historis, yaitu tokoh yang dapat direkonstruksi melalui metode sejarah; dan
- Kristus of faith, yaitu pemahaman teologis yang berkembang di dalam gereja setelah masa para rasul.
Perlu dicatat bahwa kesimpulan ini merupakan hasil pendekatan sejarah-kritis, sedangkan banyak tradisi Kristen memahami berbagai ucapan dan tindakan Yesus sebagai klaim keilahian secara implisit.
5. Perdebatan Doktrin pada Abad Keempat
Selama tiga abad pertama, gereja belum memiliki rumusan resmi mengenai hubungan antara Allah Bapa dan Yesus. Perdebatan memuncak ketika Arius mengajarkan bahwa Yesus adalah ciptaan Allah yang paling mulia tetapi bukan Allah yang kekal.
Untuk mengakhiri perpecahan, Konstantinus I menyelenggarakan Konsili Nicea Pertama. Konsili tersebut menghasilkan pengakuan bahwa Anak adalah homoousios ("sehakekat") dengan Bapa dan menolak ajaran Arius.
Perlu dicatat bahwa Konsili Nicea tidak "menciptakan" Yesus menjadi Tuhan, melainkan meresmikan salah satu pemahaman yang telah berkembang di sebagian komunitas Kristen dan menolaknya dari pandangan-pandangan lain yang juga telah lama ada.
Kesimpulan
Dari perspektif sejarah akademik, perkembangan keyakinan mengenai keilahian Yesus berlangsung secara bertahap.
Banyak sejarawan berpendapat bahwa:
- Yesus historis hidup sebagai seorang guru Yahudi, nabi, dan Mesias.
- Pengikut mula-mula berasal dari tradisi monoteisme Yahudi.
- Pemahaman tentang keilahian Yesus berkembang dalam komunitas Kristen selama beberapa dekade setelah wafat-Nya.
- Rumusan resmi mengenai hubungan Yesus dengan Allah Bapa baru ditetapkan melalui konsili-konsili gereja pada abad keempat.
Sementara itu, dalam perspektif teologi Kristen arus utama, keilahian Yesus diyakini telah menjadi bagian dari iman para rasul sejak awal, dan konsili-konsili gereja dipandang sebagai proses merumuskan serta menegaskan keyakinan tersebut, bukan menciptakannya.
Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini? Silahkan tulis komentar.



0 Komentar