Grup Facebook yang diinisiasi oleh Gus Mendem ini pertama kali dibentuk pada 12 April 2018 dengan nama ANTI PEMURTADAN, namun setelah susunan admin terbentuk - dan guna menegaskan tujuan utama grup; yakni:
Menepis semua propaganda kristenisasi yang secara gencar dilancarkan oleh para Evangelist dan semua pendukung mereka, sementara di sisi lain untuk memenuhi tanggungjawab kolektif umat Islam dalam memberikan pembekalan pengetahuan dasar seputar Kristianologi kepada Muslim awam;
4 hari kemudian, yakni pada tanggal 16 April 2018, namanya diganti menjadi STOP KRISTENISASI.
Namun entah karena alasan apa, dan ini sungguh aneh, sebab tidak pernah disebutkan, apalagi diperlihatkan kepada Admins (patut diduga karena adanya satumpuk laporan palsu dari sebagian member yang merasa disudutkan oleh topik-topik seputar Kristianologi yang beredar di dalam grup ke otoritas Facebook), tiba-tiba saja, dan tanpa peringatan sebelumnya, pada tanggal 3 Februari 2020 grup STOP PEMURTADAN dinon-aktifkan secara permanen oleh Facebook dengan alasan melanggar standar kebijakan Facebook!
Admins & Moderators
Seperti grup-grup sejenis pada masanya, STOP KRISTENSASI juga mengalami tumbuh-kembang yang relatif cepat karena sekalipun menerapkan Peraturan & Tata Tertib yang lumayan ketat, tapi karena para admin sangat membatasi diri untuk tidak terlibat langsung dalam aktifitas perdebatan di dalam grup kecuali lebih banyak menjalankan fungsi utama mereka untuk mengawasi dan menjamin kelancaran dialog antar member, maka hanya dalam tempo kurang dari tiga bulan saja jumlah member sudah mencapai lebih dari 7K!
Untuk menarik perhatian lebih banyak lagi member Kristen, khususnya para Pendeta, Evangelist, dan semua pendukung program penginjilan mereka, dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 14 Juni 2018 nama grup diganti menjadi STOP PAULUSISASI, namun esoknya, yakni tanggal 15 Juni 2018 nama tsb dirobah menjadi STOP PEMURTADAN, lalu dikukuhkan menjadi "trade-mark" grup untuk terakhir kalinya pada tanggal 21 Juni 2018.
Admins & Moderators
Admin utama Grup STOP PEMURTADAN didukung oleh 4 orang admins dan 1 orang moderator, yakni; Gus Mendem, Ryovandy, Mahdi Umar Abdallah, Prince Farisi, dan Teguh Prayoga.
Guna menjaga kualitas dialog antar member, para admins sepakat untuk konsisten bekerja secara bergilir dan rutin memeriksa setiap topik (TS) yang masuk untuk menjamin topik-topik yang akan dipublikasi dalam grup selalu memenuhi tata-krama yang ditetapkan dalam Peraturan & Tata Tertib Grup. Sementara itu, Moderator bekerja untuk "menengahi" topik-topik dialog (atau debat) antar member yang dianggap tidak kondusif, bias, atau bahkan mandeg!
Kebijakan kolektif para Admins & Moderator ini terbukti effektif dalam menekan resiko "mendapat teguran" dari Facebook sebagai akibat dari admin dianggap teledor membiarkan grup member melakukan pelanggaran terhadap peraturan Facebook, yang dapat mengakibatkan grup di non-aktifkan oleh Facebook. Karena itu, sepanjang perjalanannya yang relatif singkat, grup STOP PEMURTADAN terbukti bebas dari "Moderation allert" termasuk bebas dari "Potential spam", alias grup yang relatif berhasil mempertahankan status bersih dari pelanggaran!
Peraturan & Tata Tertib
Status grup sebaik ini hanya mungkin dapat dicapai melalui dua hal penting.
Pertama; Penegakan Peraturan & Tata Tertib secara tegas dan konsisten oleh Admins,
Pertama; Penegakan Peraturan & Tata Tertib secara tegas dan konsisten oleh Admins,
Kedua: Pengawasan terhadap aktifitas dialog (debat) yang ketat. Dimulai dari seleksi (sensor) semua TS sebelum dipublikasi, hingga berjalannya dialog setiap TS yang dipublikasi dengan cara mengelimir setiap komentar dan respons yang dianggap menyalahi Peraturan & Tata Tertib.
Hal ini tentu saja menuntut waktu dan perhatian penuh dari setiap Admins yang sedang mendapat giliran bertugas untuk melaksanakan hak dan kewajibannya secara konsekuen, sebab memang demikianlah fungsi utama Admins dalam pengelolaan sebuah grup di Facebook.
Namun entah karena alasan apa, dan ini sungguh aneh, sebab tidak pernah disebutkan, apalagi diperlihatkan kepada Admins (patut diduga karena adanya satumpuk laporan palsu dari sebagian member yang merasa disudutkan oleh topik-topik seputar Kristianologi yang beredar di dalam grup ke otoritas Facebook), tiba-tiba saja, dan tanpa peringatan sebelumnya, pada tanggal 3 Februari 2020 grup STOP PEMURTADAN dinon-aktifkan secara permanen oleh Facebook dengan alasan melanggar standar kebijakan Facebook!
Padahal seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahkan sampai saat penon-aktifan diberlakukan, sesungguhnya status grup STOP PEMURTADAN bebas dari pelanggaran terhadap standar kebijakan Facebook!
Tapi keputusan otoritas Facebook tampaknya tidak dapat dirobah karena meskipun upaya banding sudah diajukan, namun mereka menyatakan bahwa keputusan tsb sudah final.
STOP PEMURTADAN [PART-II]
Menyikapi kondisi ini, khususnya untuk menunjukkan kepada "para pelapor" (yang tengah bersukacita karena berhasil menyebabkan grup STOP PEMURTADAN dinon-aktifkan oleh Facebook) bahwa sesungguhnya usaha mereka hanya sia-sia belaka, Gus Mendem segera menghibahkan salahsatu grup "interfaith" miliknya dengan jumlah member yang hampir sama banyak dengan STOP PEMURTADAN yang dinon-aktifkan, lalu mengganti nama grup tsb menjadi STOP PEMURTADAN [PART-II].
Selanjutnya, pengawasan dan pemeliharaan babak baru grup STOP PEMURTADAN [PART-II] yang dimulai sejak tanggal 5 Februari 2020 dititipkan oleh Gus Mendem kepada Ryovandy dan Abu Raihan Al-Biruni.
Memulai debutnya dengan nama baru; STOP PEMURTADAN [PART-II], formasi awal Admins & Moderators yang ditunjuk untuk mendampingi Admin Utama adalah: Ahmad Ibrahim, Abu Raihan Al-Biruni, Ryovandy, dan Amir Salman Al Farisi.
Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini? Silahkan tulis komentar.












0 Komentar