Kontradiksi Firman Allah Dalam Al-Quran


Mencomot ayat-ayat tertentu dari Al-Quran dan mengabaikan konteks, seorang penginjil coba membenturkan dua surah Al-Quran dengan berbekal asumsi bahwa ia telah menemukan kontradiksi firman Allah di dalam Al-Quran yang ia gambarkan seperti berikut ini:       

Allah SWT mengklaim dalam Al-Quran bahwasanya apabila ditemukan banyak pertentangan di dalamnya, berarti Al-Quran bukan dari Allah (QS. An-Nisa: 82)

Perhatikan!
Dalam surah An-Nisa, Allah SWT melarang bunuh diri. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa: 29)

Sementara dalam surah Al-Baqarah, justru Allah SWT menyuruh bunuh diri. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Wahai kaumku! Kamu benar-benar telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan), karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu di sisi Penciptamu. Dia akan menerima tobatmu. Sungguh, Dia-lah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."" (QS. Al-Baqarah: 54)

Padahal sangat mudah untuk dipahami bahwa kedua ayat yang dikutip tersebut  sesungguhnyua menggambarkan dua keadaan yang sangat berbeda. 

Ayat pertama: Allah melarang manusia untuk bunuh diri (QS. 4: 29)
Ayat kedua: Allah mengisahkan Musa memerintah kaumnya untuk bunuh diri (QS. 2: 54)

Artinya, Allah tidak pernah memerintah manusia untuk bunuh diri.

Dengan demikian, tentu saja kedua ayat di atas tidak dapat dijadikan pembenar untuk mendukung asumsi "waton jeplak" yang menuduh firman Allah saling bertentangan antara satu sama lain, khususnya dalam konteks bunuh diri. Sebab, sampai kapan pun perbuatan ini tetap merupakan hal terlarang dalam Islam!   


Ikuti dialog di TKP

Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini? Silahkan tulis komentar.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Menurut Kitab Keluaran (Pasal 32) dan teks-teks keagamaan lainnya, patung "anak sapi" merujuk pada Anak Lembu Emas, sebuah berhala yang dibuat oleh bangsa Israel ketika Musa berada di Gunung Sinai menerima Sepuluh Perintah.

    Setelah kembali dan melihat orang-orang menari dan menyembah anak lembu ini, Musa sangat marah dan mengambil beberapa tindakan langsung:

    Menghancurkan Berhala: Ia membakar anak lembu itu dalam api, menghancurkannya menjadi bubuk halus, dan mencampur bubuk itu dengan air.

    Memaksa Mereka Meminumnya: Ia memaksa bangsa Israel untuk meminum air yang mengandung bubuk anak lembu itu. Ini bertindak sebagai isyarat simbolis untuk membuat mereka "menanggung konsekuensi dosa mereka" dan menunjukkan ketidakberdayaan berhala tersebut.

    Menghadapi Harun: Ia menegur keras saudaranya Harun karena membiarkan orang-orang melakukan "dosa yang sangat besar".

    Menyerukan Penghakiman: Berdiri di gerbang perkemahan, Musa bertanya, "Siapa pun yang berpihak pada YHWH, datanglah kemari!" Kaum Lewi berkumpul, dan Musa memerintahkan mereka untuk mengeksekusi orang-orang yang menyembah berhala itu, yang mengakibatkan kematian sekitar 3.000 orang.

    Memohon ampunan bagi umat: Meskipun marah, Musa kembali kepada Allah untuk memohon ampunan bagi umatnya, dengan menyatakan: "Sekarang, ampunilah dosa mereka—tetapi jika tidak, maka hapuslah namaku dari kitab yang telah Engkau tulis".

    Konteks Islam: Dalam Al-Quran, kejadian itu juga digambarkan. Musa berbicara kepada umatnya, dengan menyatakan: "Wahai kaumku, sesungguhnya kamu telah menzalimi diri sendiri dengan mengambil anak lembu [untuk disembah]. Maka bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu sendiri". Kisah Al-Quran juga menyoroti bahwa anak lembu itu dibuat oleh seorang pria bernama Samiri, yang mendesainnya untuk menghasilkan suara.

    BalasHapus