Dua Singgasana Di Sorga


Matahari Jumat Agung mulai merayap ke peraduan, mengecat langit dengan warna jingga dan ungu. Di halaman rumah, seorang ayah duduk bersandar pada kursi kayu, sementara anak laki-lakinya yang berusia sebelas tahun, Alvin, duduk di bangku rendah, mendengarkan dengan mata yang lebar.

“Jadi, Alvin,” ayahnya mulai, suaranya lembut namun penuh keyakinan, “Allah yang kita sembah, adalah Roh yang Mahakuasa, dan karena kasih-Nya yang begitu besar kepada kita, Ia memutuskan untuk turun ke dunia ini.”

Ayahnya melanjutkan, menceritakan dengan detail yang telah ia hafal sejak kecil: tentang kelahiran ajaib di Betlehem, mukjizat-mukjizat di Galilea, pengajaran penuh hikmat, hingga pengkhianatan, derita di kayu salib, dan kematian yang menyakitkan. Lalu, kebangkitan pada hari ketiga, dan akhirnya, kenaikan Yesus ke surga.

“Dan di surga,” ayahnya mengakhiri dengan senyum kecil, “Yesus sekarang sudah duduk di sebelah Allah. Semuanya telah kembali seperti semula, tetapi sekarang dengan penebusan bagi kita.”

Suasana hening sejenak, hanya diselingi suara jangkrik malam. Alvin tidak langsung bereaksi. Ia mengerutkan keningnya, matanya yang tajam memandang ke arah bintang-bintang pertama yang mulai bermunculan.

“Ayah,” suara Alvin memecah kesunyian, jernih dan penuh pertimbangan, “Ayah bilang Paulus menulis bahwa Allah merendahkan diri-Nya, mengambil rupa seorang manusia, yaitu Yesus. Benar, kan?”

“Benar sekali, Nak.”

“Berarti,” Alvin menyusun kata-katanya dengan hati-hati, seperti menyusun puzzle logika, “sejak saat itu, Allah yang sepenuhnya adalah Roh itu, meninggalkan surga. Ia tidak lagi berada di sorga, dan tidak pula sepenuhnya Roh, karena sekarang Ia punya tubuh manusia, yaitu tubuh Yesus. Artinya, sejak saat itu Ia menjadi manusia, tinggal di bumi, bukan di sorga, selama 33 tahun. Betul?”

Ayahnya mengangguk, meski mulai bertanya dalam hati, ke mana kira-kira pertanyaan anaknya itu akan bermuara. “Iya, itu yang kita imani. Inkarnasi.”

“Kemudian,” Alvin menggeser badannya dari sandaran kursi, “Yesus—yang katanya adalah Allah yang sudah jadi manusia itu—mati, bangkit, dan naik ke surga, lalu Ia duduk di sebelah Allah.”

Alvin berhenti, memastikan ayahnya mengikuti.

“Nah, Ayah. Di surga itu sekarang ada dua Allah. Satu adalah Allah yang berinkarnasi menjadi Yesus yang baru datang dari bumi. Sedangkan yang satunya lagi adalah Allah yang tidak berinkarnasi menjadi Yesus dan selama ini menetap di sorga. Terbukti Allah yang ini sedang berada di sorga ketika Yesus tiba di sana. Kemudian mereka duduk bersebelahan, menunjukkan mereka adalah dua oknum atau dua pribadi yang  berbeda.”

Mata Alvin menatap ayahnya dengan intensitas yang membuat sang ayah merasa sedikit tidak nyaman.

“Pertanyaanku serius, Ayah. Sangat serius! Jika Yesus adalah Allah yang turun ke bumi, dan setelah 33 tahun lamanya hidup di bumi kemudian, konon katanya, kembali lagi ke sorga dan duduk di sebelah Allah, lalu siapa sebenarnya yang duduk di sebelah Yesus di surga itu? Bukankah Allah sudah berinkarnasi menjadi Yesus? Jika yang di sebelah Yesus adalah Allah sejati, lalu Allah yang mengambil rupa Yesus Allah yang mana lagi? Berdasarkan cerita Ayah, logika sederhanaku mengatakan: tidak mungkin keduanya adalah ‘Allah’ yang sama persis pada saat yang bersamaan. Salah satu dari mereka, yang duduk di dua singgasana sorga itu, ........ pasti bukan Allah yang sebenarnya!”

Angin malam berhembus, membawa hawa dingin. Senyum di wajah ayahnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan di dahi. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Cerita yang selama puluhan tahun terasa mulus, indah, dan sangat meyakinkan, tiba-tiba terasa seperti benang kusut ketika dihadapkan pada pertanyaan polos anaknya sendiri. Dalam benaknya ia mencari kata-kata dari kitab suci, dari khotbah-khotbah yang pernah ia dengar, tetapi setiap penjelasan yang terlintas justru memunculkan lebih banyak pertanyaan dalam benaknya sendiri.

Di langit, dua bintang terang tampak berdekatan, seolah-olah duduk bersebelahan di hamparan kegelapan. Siapa di antara mereka yang cahayanya paling asli?

Sang Ayah hanya bisa memandang anaknya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat Alvin bukan hanya sebagai anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, tetapi sebuah nalar murni yang sedang menguji tembok keyakinan keluarga yang selama ini dibangun di atas fondasi cerita, bukan logika.

“Ayah?” tanya Alvin lagi, suaranya masih tenang, menunggu jawaban.

Ayahnya menarik napas panjang. “Nak,” katanya, pelan, “kadang… iman itu melampaui logika kita.”

Tapi jawaban itu terasa asing, bahkan di telinganya sendiri, karena terdengar seperti gema kosong di ruangan hampa yang tiba-tiba saja kehilangan maknanya.

[Gus Mendem | Renungan]

 

Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini? Silahkan tulis komentar.

Posting Komentar

0 Komentar