Messiah dalam Pandangan Agama-agama Abrahamik


Messiah adalah sosok yang penuh dengan misteri dan harapan dalam berbagai tradisi agama. Banyak yang percaya bahwa kedatangan messiah akan membawa perubahan besar, menyatukan umat manusia, dan menciptakan era baru yang dipenuhi dengan kedamaian dan keadilan. Namun, siapakah sebenarnya messiah ini? Apa yang membuatnya begitu penting dan dinantikan oleh banyak orang dari berbagai kepercayaan? Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali mengundang rasa penasaran dan keingintahuan yang mendalam.

Dalam perjalanan sejarah, konsep messiah telah berkembang dan mengalami berbagai interpretasi yang berbeda di antara agama-agama besar dunia. Setiap agama memiliki pandangannya sendiri tentang siapa messiah itu, apa misinya, dan bagaimana dia akan mengubah dunia. Dari janji-janji kuno yang tercatat dalam kitab suci hingga keyakinan yang terus hidup dalam hati para pengikutnya, sosok messiah tetap menjadi topik yang menarik untuk dijelajahi lebih lanjut. Bagaimana berbagai agama melihat dan menantikan messiah mereka masing-masing?

Selain itu, kisah tentang messiah tidak hanya terbatas pada aspek keagamaan semata. Ada elemen-elemen budaya, politik, dan sosial yang turut mempe ngaruhi bagaimana messiah dipahami dan dirayakan. Apa dampak dari kepercayaan terhadap messiah terhadap dinamika masyarakat dan hubungan antarumat beragama? Menggali lebih dalam tentang messiah membuka pintu ke dunia yang penuh dengan simbolisme, harapan, dan tantangan yang memikat untuk ditelusuri. Siapkah Anda untuk mengetahui lebih banyak tentang figur yang begitu dinanti ini?

Berikut adalah rangkuman dari berbagai sumber tentang pengertian messiah dalam agama-agama Abrahamik.

Messiah dalam Agama Islam
Dalam Islam, konsep Messiah dan Dajjal memiliki peran penting dalam eskatologi. Dajjal, sering disebut sebagai Al Masih Ad Dajjal (المسيح الدجال) dalam hadis-hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah tokoh yang akan muncul di akhir zaman. Dalam hadis riwayat Bukhari (Fathul Bari, no. 3439), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut Dajjal sebagai Al Masih Ad Dajjal, yang menunjukkan bahwa ketika Dajjal (Antikristus) muncul, ia akan mengaku sebagai Al Masih (Messiah).

Ini adalah salah satu dari banyak tanda besar yang akan terjadi menjelang Hari Kiamat. Dajjal akan mengklaim dirinya sebagai Messiah, dan banyak orang, termasuk sebagian dari orang Yahudi, akan tertipu dan meyakini bahwa Dajjal adalah Messiah yang telah lama mereka nantikan.

Dalam hadis riwayat Muslim no. 5237 (versi aplikasi Lidwa, no. 2944 versi Syarh Shahih Muslim), Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa Dajjal akan diikuti oleh banyak orang Yahudi dari Ashbahan:

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا
“Dajjal diikuti Yahudi Ashbahan sebanyak tujuh puluh ribu orang.”

Ini menunjukkan bahwa sebagian orang Yahudi akan menjadi pengikut Dajjal, tertipu oleh klaimnya sebagai Messiah.

Dajjal digambarkan dalam hadis-hadis sebagai individu dengan sifat fisik yang khas, termasuk buta sebelah mata. Dalam hadis riwayat Bukhari no. 6859 (versi aplikasi Lidwa, no. 7408 versi Fathul Bari), Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan:

إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
“Ingatlah bahwa Dajjal adalah buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidak buta sebelah.”

Ini adalah peringatan kepada umat Islam bahwa Dajjal bukanlah Tuhan, meskipun ia akan mengklaim demikian. Setelah Dajjal diakui sebagai Messiah oleh pengikutnya, ia akan meningkatkan klaimnya menjadi nabi, anak Tuhan, dan akhirnya Tuhan itu sendiri. Ini adalah salah satu bentuk tipu daya Dajjal yang sangat berbahaya.

Namun, Dajjal akhirnya akan dibunuh oleh Nabi Isa ‘alaihis salam. Dalam hadis riwayat Muslim no. 5233 (versi aplikasi Lidwa, no. 2940 versi Syarh Shahih Muslim), disebutkan bahwa Allah akan mengutus Nabi Isa untuk membunuh Dajjal:

فَيَبْعَثُ اللَّهُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ فَيَطْلُبُهُ فَيُهْلِكُهُ
“Lalu Allah mengutus Isa bin Maryam, ia mencari Dajjal dan membunuhnya.”

Nabi Isa akan turun kembali ke bumi, sebagai bagian dari tanda-tanda besar menjelang Hari Kiamat, untuk mengalahkan Dajjal dan memimpin umat manusia dalam kebenaran. Setelah membunuh Dajjal, Nabi Isa akan melakukan beberapa tindakan penting yang mencerminkan perubahan besar dalam dunia.

Dalam hadis riwayat Bukhari no. 2070 (versi aplikasi Lidwa, no. 2222 versi Fathul Bari), Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tindakan-tindakan yang akan dilakukan oleh Nabi Isa setelah membunuh Dajjal:

أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ
“Akan turun Ibnu Maryam (Isa ‘alaihis salam) yang akan menjadi hakim yang adil, menghancurkan salib, membunuh babi, membebaskan jizyah, dan harta benda melimpah ruah sehingga tidak ada seorangpun yang mau menerimanya.”

Nabi Isa akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan jizyah, pajak yang dikenakan kepada non-Muslim di bawah pemerintahan Islam. Pada masa itu, kemakmuran akan melimpah ruah sehingga tidak ada orang yang mau menerima harta benda lagi. Ini mencerminkan periode kedamaian dan keadilan di bawah kepemimpinan Nabi Isa.

Di masa turunnya Nabi Isa, kepemimpinan dalam ibadah dan urusan umat akan tetap berada di tangan umat Islam. Nabi Isa akan mengikuti syariat Islam, dan ini menunjukkan penghormatan terhadap ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam hadis riwayat Muslim no. 225 (versi aplikasi Lidwa, no. 156 versi Syarh Shahih Muslim), disebutkan:

فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُولُ لَا إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الْأُمَّةَ
“Maka turunlah Isa putra Maryam, lalu pemimpin muslim berkata, ‘Kemarilah, pimpinlah kami shalat.’ Isa berkata, ‘Tidak, sesungguhnya sebagian kalian atas sebagian yang lain adalah pemimpin, sebagai bentuk pemuliaan Allah terhadap umat ini’.”

Kalangan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) juga akan mengikuti keimanan Nabi Isa dan mengimani syariat Islam. Hal ini ditegaskan dalam Al-Quran, surat An Nisaa’ ayat 159:

وَاِنْ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهٖ قَبْلَ مَوْتِهٖ
“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa semua Ahli Kitab akan beriman kepada Nabi Isa sebelum kematiannya, mengakui kebenaran risalah yang dibawanya dan mengikuti syariat Islam.

Dengan demikian, dalam pandangan Islam, kemunculan Dajjal dan kembalinya Nabi Isa adalah bagian dari tanda-tanda besar akhir zaman yang membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia dan menegakkan keadilan dan kebenaran di dunia.

Messiah dan Dajjal dalam Agama Yahudi
Dalam Alkitab Perjanjian Lama, salah satu tanda kehadiran Messiah adalah kemampuannya untuk mengumpulkan kembali orang-orang Yahudi yang telah tercerai-berai di berbagai belahan dunia, yang dikenal sebagai diaspora. Ini dinyatakan secara jelas dalam kitab Yesaya:

"Ia akan menaikkan suatu panji-panji bagi bangsa-bangsa, akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan orang-orang Yehuda yang terserak dari keempat penjuru bumi."(Yesaya 11:12)

Ayat ini menegaskan bahwa salah satu peran utama Messiah adalah mempersatukan kembali bangsa Israel yang telah tersebar. Bagi banyak orang Yahudi, berdirinya negara Israel di Palestina dianggap sebagai pemenuhan sebagian dari nubuat ini. Negara Israel dipandang sebagai sarana untuk mengumpulkan kembali diaspora Yahudi dan menyediakan tempat bagi pembangunan kembali Haikal Sulaiman (Baitul Maqdis), yang merupakan simbol penting dalam tradisi Yahudi.

Selain tugas pengumpulan kembali orang-orang Yahudi, Alkitab Perjanjian Lama juga memperingatkan tentang adanya nabi palsu, yang dalam tradisi Yahudi disebut sebagai Dajjal. Nabi palsu ini digambarkan sebagai sosok yang akan menyesatkan orang-orang Yahudi dan mengajak mereka untuk menyembah tuhan lain. Dalam kitab Ulangan, dinyatakan:

"Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, dan tanda atau mujizat itu terjadi, dan ia berkata: 'Marilah kita mengikuti allah lain yang tidak kau kenal dan mari kita beribadah kepadanya', maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu."(Ulangan 13:1-3)

Ayat ini memperingatkan umat Yahudi agar berhati-hati terhadap siapa pun yang mengaku sebagai utusan Tuhan namun mengajak untuk menyembah dewa atau tuhan lain. Ini adalah peringatan penting yang bertujuan menjaga kemurnian iman dan kepercayaan kepada Tuhan yang satu. Dalam konteks ini, nabi palsu yang mengajak kepada penyembahan selain Tuhan Israel bisa dianggap sebagai Dajjal dalam tradisi Yahudi.

Dengan demikian, dalam agama Yahudi, Messiah adalah sosok yang membawa pengharapan besar akan pemulihan dan penyatuan bangsa Israel. Di sisi lain, Dajjal adalah ancaman yang harus diwaspadai, karena ia berusaha menyesatkan dan memecah belah umat dengan ajaran palsunya. Peran dan makna kedua figur ini memberikan pandangan yang mendalam tentang eskatologi Yahudi dan harapan-harapan masa depan yang mereka gantungkan kepada kedatangan Messiah sejati.

Messiah dalam Agama Nasrani
Orang Nasrani mengimani Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang memberikan dasar bagi keyakinan mereka tentang Messiah dan Dajjal. Mereka mendukung keberadaan negara Israel di Palestina karena keyakinan teologis yang berakar pada Alkitab Perjanjian Lama. Di dalam Alkitab Perjanjian Lama, terdapat janji-janji Tuhan kepada bangsa Israel yang menjadi landasan keyakinan teologis bagi banyak orang Nasrani.

Perbedaan mendasar antara orang Nasrani dan orang Yahudi terletak pada penerimaan Yesus Kristus (Isa) sebagai Messiah. Orang Nasrani percaya bahwa Yesus adalah Messiah yang dijanjikan, sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab Perjanjian Baru. Dalam Markus 14:61-62, Yesus sendiri mengakui bahwa Dia adalah Messiah, ketika ditanya oleh Imam Besar:

"Dan Imam Besar itu berdiri di tengah-tengah dan bertanya kepada Yesus, katanya: 'Tidakkah Engkau menjawab sama sekali? Apakah tuduhan-tuduhan ini yang mereka ajukan terhadap Engkau?' Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Sekali lagi Imam Besar itu bertanya kepada-Nya, katanya: 'Apakah Engkau messiah, Anak dari Yang Terpuji?' Yesus menjawab, 'Akulah Dia.'"

Keyakinan ini menjadikan Yesus sebagai pusat iman Nasrani, dan mereka percaya bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus memenuhi nubuat-nubuat mengenai kedatangan Messiah.

Sebaliknya, orang Yahudi tidak mengimani Alkitab Perjanjian Baru dan karena itu tidak menerima Yesus sebagai Messiah. Bagi mereka, Yesus dianggap sebagai seorang nabi palsu karena tidak memenuhi kriteria-kriteria yang mereka percayai harus dipenuhi oleh Messiah. Mereka masih menantikan kedatangan Messiah yang akan membawa perdamaian dan kerajaan Allah di bumi.

Alkitab Perjanjian Baru juga mengabarkan tentang adanya nabi-nabi palsu dan Messiah palsu yang akan muncul pada akhir zaman. Dalam Matius 24:11, Yesus memperingatkan murid-murid-Nya bahwa banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang:

"Dan banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang."

Ayat lainnya dalam Matius 24:5, Yesus menyatakan bahwa banyak orang akan datang dengan mengaku sebagai Messiah dan menyesatkan banyak orang:

"Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah messiah, dan mereka akan menyesatkan banyak orang."

Dalam teologi Nasrani, Messiah palsu atau Dajjal disebut dengan nama Antikristus. Istilah "Antikristus" berasal dari kata Yunani "antichristos," yang berarti "melawan Kristus" atau "pengganti Kristus." Konsep Antikristus ini merujuk pada individu atau kekuatan yang akan muncul di akhir zaman, mengaku sebagai Kristus atau berusaha menyaingi atau menggantikan Kristus, dan menyesatkan umat manusia. Dalam surat-surat Rasul Yohanes, khususnya dalam 1 Yohanes 2:18, dinyatakan:

"Anak-anakku, sekarang adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang Antikristus akan datang, sekarang telah banyak Antikristus muncul; dari hal inilah kita ketahui, bahwa ini adalah waktu yang terakhir."

Kesimpulannya, meskipun ada kesamaan dalam keyakinan orang Nasrani dan Yahudi mengenai keberadaan Messiah, terdapat perbedaan fundamental dalam pengakuan mereka terhadap Yesus sebagai Messiah dan pandangan mereka tentang nabi-nabi palsu dan Messiah palsu, yang dalam teologi Nasrani disebut sebagai Antikristus.


[Sumber: Woro Anjar Verianty |  Liputan6.com, Jakarta]

Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini? Silahkan tulis komentar.

Posting Komentar

0 Komentar