Allah Memiliki Dua Tangan, dan Keduanya Adalah Kanan?



1. Apa Maksud “Tangan Kanan Tuhan”?

Sebelum Kristen mengejek hadits tentang Allah yang memiliki “dua tangan kanan”, terlebih dahulu ia perlu menjelaskan apa yang dimaksud dengan “tangan kanan Tuhan” dalam kitab sucinya sendiri. Alkitab berulang kali menyebutkan:

Tangan kanan-Mu, ya TUHAN, mulia karena kuasa.” (Keluaran 15:6)
“Aku akan menopang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kebenaran.” (Yesaya 41:10)
Di sebelah kanan-Mu ada sukacita untuk selama-lamanya.” (Mazmur 16:11)

Jika Kristen tidak memahami ayat-ayat tersebut secara harfiah melainkan memaknainya sebagai simbol kuasa, rahmat, pertolongan, dan kemenangan, lalu mengapa mereka menuntut umat Islam untuk menafsirkan “tangan Allah” secara fisik? Di sinilah tampak nyata bagaimana nalar mereka gagal  menyadari bahwa mereka menggunakan standar ganda!

2. Apa Arti “Kedua Tangan-Nya Adalah Tangan Kanan”?

Hadits menyatakan:
“Orang-orang yang berlaku adil akan berada di sisi kanan Ar-Rahman, dan kedua tangan-Nya adalah tangan kanan.” (HR. Muslim)
Hadits ini sama sekali tidak menjelaskan bahwa secara harfiah  Allah memiliki dua tangan kanan sebagaimana halnya makhluk. Ulama besar Imam Ibnu Qutaibah menjelaskan bahwa ungkapan “keduanya tangan kanan” melambangkan kesempurnaan mutlak. Seluruh anugerah Allah baik, adil, dan penuh keberkahan, yang dalam konteks ini diartikan sebagai dua kali lebih baik daripada pemberian melalui satu tangan kanan.

Dalam ungkapan bahasa Arab, yamin (kanan) sering melambangkan kemuliaan, keberkahan, dan kebaikan; sedangkan syimal (kiri) dapat melambangkan kekurangan atau kedudukan yang lebih rendah. Karena itu, ungkapan “kedua tangan-Nya adalah tangan kanan” menunjukkan bahwa tidak ada sedikit pun kekurangan dalam perbuatan Allah. Semua yang Dia lakukan adalah kebaikan dan keadilan yang sempurna.

3. Landasan Al-Qur'an

Al-Qur'an secara tegas menolak pemahaman yang menyerupakan Allah dengan makhluk ciptaan-Nya:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura 42:11)
Jika Allah memiliki anggota tubuh fisik sebagaimana makhluk, maka Dia akan menyerupai ciptaan-Nya, padahal Al-Qur'an dengan jelas menolak anggapan tersebut.

Karena itu, istilah “tangan” dalam bahasa Al-Qur'an dan hadits dipahami sebagai simbol kekuasaan, otoritas, karunia, dan kemurahan Allah, bukan anatomi fisik.

4. Konsistensi Teologis

Bahkan dalam Alkitab, “tangan kanan Tuhan” tidak dipahami sebagai anggota tubuh fisik. Ungkapan tersebut dipahami sebagai kiasan yang menggambarkan kuasa dan tindakan ilahi.

Nabi Muhammad ï·º adalah orang yang paling mengerti tentang hal ini sebab beliaulah yang mengajarakan kepada seluruh umat manusia bahwa Allah tidak serupa dengan apa pun yang dapat dibayangkan oleh seluruh panca indera manusia. Oleh karenanya ketika beliau bersabda tentang “kedua tangan-Nya adalah tangan kanan”, tentu saja beliau tidak sedang mengabarkan bahwa Allah memiliki dua tangan seperti makhluk ciptaan-Nya, melainkan sedang menegaskan bahwa kuasa, rahmat, dan keadilan Allah adalah sempurna tanpa cacat, tidak terbagi antara baik dan buruk, serta tidak mengandung kekurangan sedikit pun.

5. Kesimpulan

Mengolok-olok Allah memiliki tangan secara fisik sama artinya dengan mengakui, sekaligus menunjukkan kebodohan diri sendiri karena tidak mengerti gaya bahasa Arab yang mendasari konsep transendensi ilahi yang diajarkan Al-Qur'an.  

Putusan Al-Qur'an sangat jelas:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syura 42:11)
Karena itu, sebelum mengejek ajaran Islam, para pengkritik seharusnya terlebih dahulu menjelaskan makna “tangan kanan Tuhan” dalam kitab suci mereka sendiri. Mereka akan mendapati bahwa kedua tradisi sama-sama menggunakan ungkapan tersebut sebagai metafora untuk kuasa, keadilan, dan rahmat—bukan anatomi fisik.

Dalam kitab kalian sendiri, ungkapan 'tangan kanan Tuhan' kalian pahami sebagai kiasan. Namun ketika Al-Qur'an berbicara tentang 'tangan Allah', kalian menuntut makna harfiah. Itu sama sekali bukan konsistensi teologis—tapi cuma standar ganda teologis.

Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini? Silahkan tulis komentar.

Posting Komentar

0 Komentar