Salah satu kekeliruan yang cukup sering ditemukan dalam sebagian kalangan Kristen ketika membaca Al-Qur'an adalah mengambil satu frasa secara terpisah lalu menjadikannya dasar untuk memahami keseluruhan ajaran Islam.
Misalnya, ketika Al-Qur'an menyebut Allah sebagai "Tuhan negeri ini (Mekah)", sebagian Kristen langsung menyimpulkan bahwa Allah hanyalah Tuhan Mekah. Padahal Al-Qur'an sejak halaman pertamanya, yakni QS. Al-Fatihah: 2, sudah memperkenalkan Allah sebagai Tuhan Seluruh Alam.
"Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin"
"Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam."
Jika Allah adalah Tuhan seluruh alam, maka menyebut-Nya sebagai Tuhan Mekah tidaklah membatasi kekuasaan-Nya hanya pada Mekah. Sebagaimana seseorang dapat mengatakan "Allah adalah Tuhan Indonesia", "Allah adalah Tuhan Israel", atau "Allah adalah Tuhan Amerika" tanpa berarti bahwa Allah hanya menjadi Tuhan wilayah tersebut. Mekah hanyalah salah satu bagian dari alam yang juga berada di bawah kekuasaan-Nya.
Kesalahpahaman serupa muncul ketika sebagian orang membaca QS. Al-Ma'arij:40:
Lalu mereka bertanya:
"Siapa Tuhan Timur?"
"Siapa Tuhan Barat?"
"Siapa 'Aku'?"
"Siapa 'Kami'?"
Seolah-olah ayat itu sedang memperkenalkan beberapa Tuhan yang berbeda. Padahal logika yang sama tidak pernah mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Bayangkan ada berita:
"Presiden Republik Indonesia pagi ini bersumpah atas nama Presiden Indonesia Timur dan Presiden Indonesia Barat."
Tidak ada orang yang langsung bertanya:
"Siapa Presiden Indonesia Timur?"
"Siapa Presiden Indonesia Barat?"
Semua orang memahami bahwa yang dimaksud adalah sosok Presiden yang sama, hanya disebut dalam kaitannya dengan wilayah yang berbeda.
Demikian pula dalam Al-Qur'an. Ketika Allah menyebut diri-Nya sebagai Tuhan tempat-tempat terbit dan tempat-tempat terbenam Matahari, maksudnya bukan ada banyak Tuhan yang menguasai berbagai arah mata angin. Justru ayat itu menegaskan bahwa seluruh arah, seluruh wilayah, seluruh peredaran benda langit, dan seluruh alam semesta ini berada di bawah kekuasaan Tuhan yang satu, yaitu Allah.
Mau disebut Tuhan Timur, Tuhan Barat, Tuhan Utara, Tuhan Selatan, Tuhan Mekah, Tuhan Madinah, Tuhan Indonesia, Tuhan Arab, atau Tuhan Israel, semuanya tetap merujuk kepada Zat yang sama: Allah Yang Maha Esa.
Karena itulah, baik ayat tentang "Tuhan negeri Mekah" maupun ayat tentang "Tuhan Timur dan Tuhan Barat" tidak sedang membatasi Allah pada suatu wilayah tertentu, apalagi memperkenalkan tuhan-tuhan lain yang bersekutu dengan-Nya. Sebaliknya, kedua ayat tersebut justru menegaskan bahwa tidak ada satu jengkal pun dari alam semesta ini yang berada di luar kekuasaan-Nya.
Kesimpulannya sederhana:Jika Allah adalah Tuhan seluruh alam, maka Allah juga Tuhan Mekah.Jika Allah adalah Tuhan seluruh alam, maka Allah juga Tuhan Timur dan Tuhan Barat.
Namun mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan Mekah atau Tuhan Timur tidak pernah berarti bahwa ada Tuhan lain selain Allah. Sebagaimana menyebut seorang presiden sebagai Presiden wilayah timur atau wilayah barat tidak menciptakan presiden-presiden baru, demikian pula penyebutan berbagai wilayah dalam Al-Qur'an tidak pernah menciptakan tuhan-tuhan baru. Yang ada tetap satu Tuhan yang sama, yaitu: Allah, Rabbul 'Alamin, Tuhan seluruh alam semesta.
Faham ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!
[Disadur dari catatan lama Gus Mendem]
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!
[Disadur dari catatan lama Gus Mendem]
Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini? Silahkan tulis komentar.



0 Komentar