Salah satu kesalahpahaman yang cukup sering muncul dalam sebagian kalangan Kristen adalah anggapan bahwa Al-Qur'an mengajarkan Allah sebagai "Tuhan Mekah" atau "Tuhan orang Arab". Kesimpulan ini biasanya diambil dari beberapa ayat yang menyebut Allah sebagai "Tuhan negeri ini" atau "Tuhan Pemilik Rumah Ini (Ka'bah)".
Sekilas, jika ayat-ayat tersebut dibaca secara terpisah, mungkin muncul kesan bahwa Allah memang hanya terkait dengan Mekah. Namun, ketika ayat-ayat tersebut dipahami dalam konteks keseluruhan Al-Qur'an, kesimpulan demikian justru bertentangan dengan pesan utama kitab itu sendiri.
Al-Qur'an Dimulai dengan Penegasan Bahwa Allah Adalah Tuhan Seluruh Alam
Ayat kedua dari surah pertama Al-Qur'an berbunyi: "Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin"
Artinya: "Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam."
Ini bukan ayat yang muncul di tengah atau di akhir Al-Qur'an, melainkan salah satu ayat pertama yang diperkenalkan kepada pembacanya. Dengan demikian, sejak awal Al-Qur'an telah menegaskan bahwa Allah bukan Tuhan suatu bangsa, suku, atau wilayah tertentu, melainkan Tuhan seluruh alam semesta.
Kata "'Alamin" mencakup seluruh ciptaan: manusia, jin, malaikat, bumi, langit, dan segala sesuatu yang ada.
Mengapa Al-Qur'an Menyebut "Tuhan Negeri Ini"?
Sebagian orang kemudian menunjuk kepada ayat yang menyebut Allah sebagai "Tuhan negeri ini" dan menganggapnya sebagai bukti bahwa Allah hanyalah Tuhan Mekah.
Padahal, dalam bahasa Al-Qur'an, penyebutan suatu tempat tertentu tidak dimaksudkan untuk membatasi kekuasaan Allah pada tempat tersebut. Penyebutan itu justru menunjukkan hubungan khusus antara Allah dengan lokasi atau peristiwa yang sedang dibicarakan.
Sebagai contoh, Ka'bah disebut sebagai "Baitullah" (Rumah Allah). Tidak ada seorang Muslim pun yang memahami istilah tersebut sebagai bukti bahwa Allah tinggal di Ka'bah atau hanya menjadi Tuhan Ka'bah. Sebutan itu menunjukkan kemuliaan dan kedudukan khusus Ka'bah dalam ibadah, bukan pembatasan terhadap Allah.
Demikian pula ketika Al-Qur'an menyebut Allah sebagai Tuhan Mekah. Penyebutan tersebut menegaskan bahwa Mekah berada di bawah kekuasaan Allah, bukan bahwa Allah hanya berkuasa di Mekah.
Dengan logika yang sama, seseorang dapat mengatakan "Allah adalah Tuhan Indonesia", "Allah adalah Tuhan Israel", atau "Allah adalah Tuhan Amerika" tanpa berarti bahwa Allah hanya menjadi Tuhan wilayah-wilayah tersebut.
Banyak Ayat Al-Qur'an Menegaskan Sifat Universal Allah
Selain Al-Fatihah, banyak ayat lain yang menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh ciptaan. Al-Qur'an menyatakan bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi, menciptakan segala sesuatu, mengatur seluruh alam, dan menjadi Rabb bagi segala yang ada.
Karena itu, jika seseorang mengambil satu ayat yang menyebut "Tuhan negeri Mekah" lalu mengabaikan puluhan ayat lain yang menjelaskan bahwa Allah adalah Tuhan seluruh alam semesta, maka ia sedang membaca Al-Qur'an secara tidak utuh.
Bagaimana Islam Memandang Para Nabi Sebelum Muhammad?
Dalam keyakinan Islam, Allah yang disembah umat Islam bukanlah Tuhan baru yang muncul di Arab pada abad ke-7. Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Tuhan yang sama yang disembah oleh Adam, Ibrahim (Abraham), Ishaq (Isaac), Ya'qub (Jacob), Musa (Moses), Isa (Jesus), dan akhirnya Muhammad.
Karena itu, umat Islam tidak memandang Allah sebagai "Tuhan bangsa Arab", melainkan sebagai Tuhan seluruh umat manusia sepanjang sejarah.
Memahami Perbedaan Teologi Secara Adil
Tentu saja, umat Kristen dan umat Islam memiliki perbedaan teologis yang nyata mengenai sifat Tuhan, Yesus, keselamatan, dan berbagai pokok ajaran lainnya. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh mendorong kita untuk menyimpulkan sesuatu yang sebenarnya tidak diajarkan oleh kitab suci pihak lain.
Seseorang boleh tidak setuju dengan teologi Islam. Seseorang boleh meyakini bahwa konsep ketuhanan Islam berbeda dari konsep ketuhanan Kristen. Itu adalah wilayah diskusi teologis yang sah. Akan tetapi, mengatakan bahwa Al-Qur'an mengajarkan Allah hanyalah "Tuhan Mekah" tidak sesuai dengan isi Al-Qur'an itu sendiri.
Kesimpulan
Ketika Al-Qur'an menyebut Allah sebagai "Tuhan negeri Mekah", hal itu tidak dimaksudkan untuk membatasi Allah sebagai Tuhan lokal suatu wilayah. Sebagaimana penyebutan "Rumah Allah" tidak berarti Allah tinggal di sebuah bangunan, penyebutan "Tuhan Mekah" juga tidak berarti Allah hanya menjadi Tuhan Mekah.
Sejak awal hingga akhir, Al-Qur'an memperkenalkan Allah sebagai "Rabb al-'Alamin" — Tuhan seluruh alam.
Karena itu, jika seseorang ingin mengkritik atau mendiskusikan Islam secara jujur dan ilmiah, maka yang perlu dikaji adalah ajaran Islam sebagaimana diajarkan oleh sumber-sumbernya sendiri, bukan berdasarkan pemahaman yang lahir dari penggalan ayat yang dipisahkan dari konteks keseluruhannya.
Dialog yang sehat dimulai ketika setiap pihak berusaha memahami keyakinan pihak lain sebagaimana mereka memahaminya sendiri, bukan sebagaimana lawannya menggambarkannya.
Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini? Silahkan tulis komentar.


0 Komentar