Shalawat sama sekali bukan permintaan, apalagi perintah Nabi kepada umat Islam agar beliau didoakan karena butuh pertolongan. Shalawat adalah anjuran beliau agar siapa pun dari umat Islam yang melakukannya akan mendapat limpahan rahmat, berkah, dan pertolongan (syafa'at) dari Allah SWT. Anjuran ini merupakan wujud kasih sayang Nabi kepada umatnya agar selamat dunia dan akhirat.
Kenapa?
Karena dalam salahsatu hadits, Rasulullah ï·º bersabda:
Karena dalam salahsatu hadits, Rasulullah ï·º bersabda:
"Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan." [HR An-Nasa'i]
Beliau ingin semua umatnya mendapatkan semua yang dijanjikan Allah SWT terkait shalawat. Sebab semakin banyak bershalawat, maka semakin besar pula fadhilah yang diperoleh pelakunya. Sedangkan bagi Rasulullah sendiri, Allah sudah menjanjikan kepastian sorga, sehingga pada dasarnya beliau tidak perlu didoakan lagi.
Berikut adalah penjelasan logis dan mudah dicerna untuk meluruskan miskonsepsi tersebut:
1. Hakikat Shalawat (Siapa mendoakan Siapa?)
Miskonsepsi utama sering terjadi karena pemaknaan lafal yang keliru. Mari kita bedah sumber utamanya:
- Shalawat dari Allah: Dalam Islam, ketika disebutkan Allah bershalawat kepada Nabi, maknanya adalah Allah melimpahkan pujian, kemuliaan dan rahmat kepada Nabi, sebab DIA adalah pemilik dari semua pujian, kemuliaan dan rahmat itu.
- Shalawat dari Malaikat: Maknanya adalah permohonan ampunan dan doa keberkahan untuk Nabi.
- Shalawat dari Umat Manusia: Berarti kita memohon kepada Allah agar rahmat, kemuliaan, dan derajat Nabi Muhammad SAW ditinggikan.
Dalam konsep ini, Nabi Muhammad SAW tidak meminta didoakan karena beliau sudah dijamin kedudukannya oleh Allah SWT. Sebaliknya, umat Islamlah yang diperintah oleh Allah untuk bershalawat agar mendapatkan semua kebaikan dari bershalawat.
2. Keuntungan Luar Biasa untuk Umatnya
Mengapa Nabi sangat menganjurkan umatnya bershalawat? Jawabannya ada pada janji Allah dan Nabi-Nya yang semuanya bermuara untuk kebahagiaan dan keselamatan umat:
- Balasan Rahmat Berlipat: Berdasarkan Hadits An-Nasa'i, barangsiapa bershalawat kepada Nabi satu kali, maka Allah akan membalasnya dengan memberikan rahmat kepadanya sepuluh kali lipat.
- Mendapatkan Syafa'at (Pertolongan): Nabi bersabda bahwa orang yang paling berhak mendapatkan syafa'atnya di hari kiamat adalah mereka yang paling banyak bershalawat.
- Dekat dengan Nabi di Surga: Malaikat Jibril berjanji akan menuntun umat yang rajin bershalawat menuju keselamatan. Memperbanyak shalawat akan membuat umat lebih dekat dengan kedudukan Rasulullah SAW di surga kelak.
3. Miskonsepsi Kristen Tentang Shalawat
Bagi umat Kristen yang terbiasa dengan konsep doa sebagai bentuk permohonan kepada figur yang lebih tinggi (Tuhan) untuk menolong manusia yang lemah, bershalawat kepada Nabi sering disalahartikan sebagai penyembahan atau pengakuan bahwa Nabi butuh diselamatkan. Umat Islam menepis miskonsepsi ini dengan analogi sederhana:
- Bukan meminta tolong, tapi mengapresiasi: Bershalawat itu seperti mengucapkan terima kasih dan memuliakan seorang guru atau pahlawan yang telah berjasa menyelamatkan hidup kita. Kita mendoakan kebaikan untuknya sebagai tanda cinta dan terima kasih atas ajarannya.
- Sama seperti konsep 'syafaat' umat Kristen: Umat Kristen juga mengenal konsep saling mendoakan atau meminta didoakan (syafaat) kepada para pendeta, santa, atau jemaat lain, yang tujuannya untuk kebaikan bersama. Dalam Islam, bershalawat adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada sang pembawa wahyu.
Jadi, menuduh Nabi Muhammad masih minta didoakan oleh umat Islam agar beliau selamat di akhirat nanti adalah bukti kesombongan orang bodoh yang sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakannya sendiri.
Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini? Silahkan tulis komentar.


0 Komentar