Di Sana Yesus Di Sini Isa - Tanya Kenapa?


DI SANA YESUS, DI SINI ISA — TANYA KENAPA?
Memahami Perbedaan Nama Tanpa Salah Paham

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam dialog Islam dan Kristen adalah:

"Kalau Yesus dan Isa itu orang yang sama, mengapa namanya berbeda?"

Sebagian orang bahkan menjadikan perbedaan nama ini sebagai bahan ejekan atau alasan untuk meragukan hubungan antara Yesus dalam Kekristenan dan Isa dalam Al-Qur'an.

Padahal, jika ditelusuri dari sisi sejarah, bahasa, dan budaya, perbedaan tersebut sebenarnya sangat wajar. Bahkan hal yang sama terjadi pada banyak tokoh sejarah lainnya.

Nama yang Sama Bisa Berubah dalam Bahasa Berbeda

Coba perhatikan contoh berikut:

  • Charles (Inggris)
  • Carlos (Spanyol)
  • Carlo (Italia)
  • Karl (Jerman)
  • Karel (Belanda)

Semua merujuk pada nama yang sama, hanya berbeda pengucapan sesuai bahasa masing-masing.

Demikian pula:

  • Yohanes → John → Juan → Jean → Giovanni
  • Yakub → Jacob → James → Jacques

Tokohnya tetap sama, hanya penyebutannya yang berubah mengikuti bahasa dan tradisi setempat.

Karena itu, perbedaan nama Isa dan Yesus tidak otomatis berarti merujuk kepada dua orang yang berbeda.

Apakah Isa dalam Al-Qur'an dan Yesus dalam Injil Orang yang Sama?
Jawabannya: Ya!

Baik Al-Qur'an maupun Perjanjian Baru sama-sama menggambarkan sosok yang:
  • Lahir dari Maryam/Maria.
  • Memiliki ibu tanpa ayah biologis.
  • Melakukan berbagai mukjizat.
  • Disebut sebagai Al-Masih (Mesias).
  • Memiliki para pengikut (hawariyyun/disipel).

Meskipun Islam dan Kristen memiliki perbedaan teologis mengenai kedudukan beliau, keduanya sama-sama merujuk pada tokoh sejarah yang sama.

Karena itu, ketika seorang Muslim menghina nama "Yesus", pada hakikatnya ia sedang menghina sosok yang dalam Islam dikenal sebagai Nabi Isa عليه السلام.

Sebaliknya, memahami bahwa Yesus dan Isa adalah sosok yang sama dapat menjadi langkah awal untuk membangun dialog yang lebih santun dan saling menghormati.

Bahasa Apa yang Digunakan Pada Zaman Yesus?

Untuk memahami asal-usul nama ini, kita perlu melihat kondisi Palestina pada abad pertama Masehi.Saat itu terdapat beberapa bahasa yang digunakan secara bersamaan:

1. Bahasa Aram (Aramaic)

Ini adalah bahasa sehari-hari yang paling banyak digunakan masyarakat Yahudi saat itu. Sebagian besar ahli sejarah meyakini bahwa inilah bahasa utama yang digunakan Yesus ketika berbicara kepada masyarakat, murid-murid, dan keluarganya.

2. Bahasa Ibrani

Bahasa ini terutama digunakan untuk:

  • Kitab suci Yahudi
  • Liturgi
  • Pendidikan agama

Fungsinya kurang lebih mirip bahasa Arab klasik dalam tradisi Islam.

3. Bahasa Yunani

Setelah penaklukan wilayah Timur Tengah oleh Alexander Agung beberapa abad sebelumnya, bahasa Yunani menjadi bahasa internasional di kawasan tersebut.

Karena itulah kitab-kitab Perjanjian Baru akhirnya ditulis dalam bahasa Yunani.

4. Bahasa Latin

Digunakan oleh administrasi dan militer Kekaisaran Romawi yang menguasai wilayah Palestina saat itu.

Nama Asli Yesus Kemungkinan Besar Bukan "Jesus"

Kata "Jesus" sebenarnya adalah bentuk bahasa Inggris yang muncul jauh setelah masa kehidupan beliau. Para ahli bahasa dan sejarawan umumnya sepakat bahwa nama yang digunakan di lingkungan Yahudi abad pertama lebih dekat kepada bentuk:

Yeshua (ישוע)

dalam bahasa Ibrani.

Nama ini merupakan bentuk pendek dari nama yang lebih panjang:

Yehoshua (יהושע)

yang berarti:

"Tuhan adalah keselamatan" atau "Allah menyelamatkan."

Dari Yeshua Menjadi Yesus

Ketika Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, muncul sebuah masalah. Bahasa Yunani tidak memiliki beberapa bunyi yang terdapat dalam bahasa Semit.

Akibatnya: Yeshua → IÄ“sous (Ἰησοῦς)

Kemudian: IÄ“sous → Iesus (Latin)

Lalu berkembang menjadi:

  • Jesus (Inggris)
  • Jesús (Spanyol)
  • Jésus (Prancis)
  • Gesù (Italia)

Dari sinilah lahir bentuk "Yesus" yang kita kenal dalam bahasa Indonesia.

Dari Yeshua Menjadi Isa

Pertanyaan berikutnya:

Bagaimana Yeshua bisa menjadi Isa?
Di sinilah pembahasan menjadi lebih menarik.

Bahasa Arab dan bahasa Ibrani sama-sama berasal dari rumpun bahasa Semit. Karena memiliki hubungan kekerabatan, banyak nama nabi yang mengalami penyesuaian bunyi ketika berpindah ke bahasa Arab. Contohnya:

IbraniArab
YitzhakIshaq
Yisra'elIsrail
Yishma'elIsmail

Perhatikan bahwa bunyi awal "Y" sering berubah menjadi bunyi "I" atau "Is" dalam bahasa Arab. Hal serupa terjadi pada nama Isa.

Bentuk Arab:

عيسى (Isa)

telah digunakan oleh masyarakat Arab sejak masa awal Islam dan menjadi bentuk baku yang digunakan Al-Qur'an.

Apakah Isa Berasal dari Kesalahan?

Tidak.

Sebagian orang mengklaim bahwa nama "Isa" adalah kesalahan atau penyimpangan dari "Yeshua". Klaim ini tidak didukung oleh konsensus para ahli.

Para peneliti justru mengemukakan berbagai teori linguistik mengenai bagaimana nama tersebut berkembang dalam lingkungan bahasa Semit kuno.

Yang jelas, sejak abad ke-7, Al-Qur'an secara konsisten menggunakan nama Isa, dan umat Kristen Arab pun memahami bahwa tokoh yang dimaksud adalah Yesus dari Nazaret.

Menariknya, Orang Kristen Arab Juga Menyebutnya Isa

Banyak orang tidak mengetahui bahwa Alkitab berbahasa Arab menggunakan nama:

عيسى المسيح
(Isa Al-Masih)

untuk menyebut Yesus Kristus.

Jadi ketika seorang Arab Kristen membaca Injil, ia tidak membaca nama "Jesus" atau "Yesus", melainkan "Isa Al-Masih".

Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan nama "Isa" bukanlah sesuatu yang eksklusif milik umat Islam.

Dalam Terjemahan Melayu Lama Pun Pernah Dipakai "Isa Almasih"

Sebelum penggunaan nama "Yesus Kristus" menjadi standar dalam bahasa Indonesia modern, beberapa terjemahan Melayu lama menggunakan bentuk:

Isa Almasih

Sebagai contoh, terjemahan Injil karya H.C. Klinkert (1870) menerjemahkan Matius 1:1 sebagai:

"Inilah sjadjarah Isa Almasih, ija-itoe anak Da'oed, anak Iberahim."

Ini menunjukkan bahwa penggunaan nama "Isa" dalam tradisi Melayu memiliki sejarah yang cukup panjang.

Pelajaran Yang Dapat Dipetik

Perbedaan antara nama Isa, Yeshua, Iesous, Jesus, dan Yesus pada dasarnya merupakan hasil perjalanan sebuah nama melewati berbagai bahasa dan peradaban.

Yang berubah adalah bunyinya  |  Yang tidak berubah adalah tokoh yang dirujuk.

Karena itu, perdebatan "Isa atau Yesus?" sering kali berangkat dari kesalahpahaman linguistik. Bagi umat Islam, Isa adalah nabi yang mulia dan termasuk salah satu rasul terbesar.

Bagi umat Kristen, Yesus adalah figur sentral iman mereka.

Apa pun perbedaan keyakinan yang ada, memperolok nama yang dihormati oleh orang lain bukanlah bentuk kecerdasan intelektual maupun kedewasaan spiritual.

Memahami sejarah nama-nama tersebut justru membantu kita melihat bahwa di balik perbedaan bahasa, sering kali terdapat akar sejarah yang sama.

Jadi, di sana Yesus, di sini Isa. Nama boleh berbeda, tetapi keduanya merujuk kepada sosok sejarah yang sama: Nabi Isa Al-Masih atau Yesus dari Nazaret.

Semoga berguna.
Salam bagi  umat yang mengikuti petunjuk

[Disadur dari catatan lama Gus Mendem]


Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini? Silahkan tulis komentar.

Posting Komentar

0 Komentar