Sebelum Mengolok Yesus, Mungkin Ada Satu Hal yang Perlu Kita Ingat
Di media sosial, perdebatan agama sering kali berlangsung sangat cepat. Satu komentar dibalas dengan komentar lain. Satu video dibalas dengan video berikutnya. Dalam suasana seperti itu, tidak sedikit orang yang akhirnya lebih sibuk memenangkan perdebatan daripada menjaga adab.
Salah satu fenomena yang cukup sering terlihat adalah munculnya konten yang mengejek atau merendahkan Yesus. Sebagian pembuatnya mungkin merasa sedang membela Islam atau sedang mengkritik keyakinan tertentu yang berkembang dalam agama Kristen. Namun di tengah semangat tersebut, ada satu hal yang terkadang terlupakan:
Bagi umat Islam, Yesus bukanlah tokoh asing. Yesus adalah Nabi Isa Alaihis Salam. Beliau adalah salah satu nabi yang wajib diimani oleh setiap Muslim.
Ketika Nama Yesus Disebut, Seorang Muslim Seharusnya Mengingat Nabi Isa
Mungkin karena perbedaan penyebutan nama, sebagian orang tidak langsung menyadari bahwa Yesus yang sering menjadi bahan perdebatan itu adalah sosok yang sama dengan Nabi Isa yang disebut dalam Al-Qur'an. Padahal Al-Qur'an berbicara tentang beliau dengan penuh penghormatan.
Kita mengenal beliau sebagai nabi yang lahir melalui mukjizat. Kita mengenal beliau sebagai rasul pilihan Allah. Kita mengenal beliau sebagai sosok yang dimuliakan dan dicintai oleh jutaan Muslim di seluruh dunia. Karena itu, ketika melihat konten yang menjadikan Yesus sebagai bahan olok-olok, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:
"Kalau sosok itu adalah Nabi Isa yang saya imani sebagai nabi Allah, apakah cara seperti ini pantas dilakukan?"
Pertanyaan itu tidak perlu dijawab kepada orang lain. Cukup dijawab dalam hati masing-masing.
Mengkritik Keyakinan Tidak Sama dengan Menghina Nabi
Dalam diskusi antaragama, perbedaan keyakinan adalah sesuatu yang wajar. Seorang Muslim tentu berhak menjelaskan mengapa Islam tidak memandang Nabi Isa sebagai Tuhan. Seorang Muslim juga berhak menyampaikan pandangan Islam tentang kenabian beliau.
Namun ada perbedaan besar antara menjelaskan keyakinan dan menghina pribadi yang sedang dibahas.
Kita bisa tidak setuju terhadap sebuah doktrin tanpa harus merendahkan tokoh yang dihormati oleh jutaan manusia. Bahkan lebih dari itu, dalam kasus Nabi Isa, tokoh yang dihormati oleh umat Kristen tersebut juga dihormati oleh umat Islam sendiri.
Karena itulah, menjaga kehormatan beliau seharusnya bukan hanya bentuk penghormatan kepada umat lain, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap ajaran agama Islam sendiri.
Dakwah yang Menenangkan Biasanya Lebih Menyentuh
Di era media sosial, sering muncul kesan bahwa konten yang paling keras adalah konten yang paling efektif. Padahal belum tentu demikian. Banyak orang justru lebih tersentuh oleh sikap yang tenang, santun, dan berwibawa.
Ketika seseorang melihat seorang Muslim mampu menjelaskan keyakinannya tanpa caci maki, tanpa ejekan, dan tanpa penghinaan, di situlah keindahan akhlak Islam terlihat.
Kita mungkin tidak bisa membuat semua orang setuju dengan pandangan kita. Tetapi kita selalu bisa memilih cara yang lebih bermartabat dalam menyampaikannya.
Nabi Isa Layak Dihormati oleh Setiap Muslim
Mungkin kita berbeda dengan umat Kristen dalam memahami siapa Nabi Isa sebenarnya. Namun satu hal yang pasti: beliau bukan sosok yang layak dijadikan bahan candaan, meme penghinaan, atau objek ejekan. Beliau adalah nabi Allah.
Beliau adalah salah satu manusia pilihan yang disebut dengan penuh penghormatan dalam Al-Qur'an. Dan beliau adalah bagian dari keimanan setiap Muslim.
Karena itu, setiap kali kita melihat konten yang merendahkan Yesus, mungkin kita tidak perlu langsung marah atau mempermalukan pembuatnya. Cukup ingatkan dengan santun:
"Saudaraku, sosok yang sedang kamu ejek itu adalah Nabi Isa Alaihis Salam yang juga kita cintai dan kita hormati."
Kadang-kadang, satu kalimat yang disampaikan dengan hikmah bisa membuka hati lebih baik daripada seratus komentar yang penuh kemarahan.
Pada akhirnya, sangat perlu untuk disadari dengan benar bahwa membela Islam tidak harus dilakukan dengan merendahkan orang lain. Dan mencintai Nabi Muhammad ï·º juga berarti menghormati para nabi yang datang sebelum beliau, termasuk Nabi Isa Alaihis Salam.
Semoga lisan, tulisan, dan konten yang kita buat menjadi sebab bertambahnya kemuliaan Islam, bukan sebaliknya.
Bagaimana pendapat anda tentang artikel ini? Silahkan tulis komentar.



2 Komentar
Ketika Seorang Muslim Menghina Yesus, Siapakah yang Sebenarnya Sedang Ia Hina?
BalasHapusDi era media sosial, tidak sulit menemukan konten yang dibuat untuk mengejek atau merendahkan tokoh agama lain. Sayangnya, sebagian di antaranya dibuat oleh orang-orang yang mengatasnamakan pembelaan terhadap Islam. Dalam semangat berdebat, mereka terkadang lupa membedakan antara mengkritik sebuah doktrin dan menghina sosok yang justru dimuliakan oleh agama mereka sendiri.
Salah satu contoh yang sering terjadi adalah ketika sebagian Muslim membuat narasi, meme, atau visual yang merendahkan Yesus Kristus. Mereka mungkin mengira bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap keyakinan Kristen tentang ketuhanan Yesus. Namun yang sering tidak mereka sadari adalah bahwa sosok yang sedang mereka hina itu, dalam pandangan Islam, adalah Nabi Isa Alaihis Salam — salah satu nabi terbesar yang sangat dimuliakan oleh Allah.
Pertanyaan yang perlu direnungkan adalah: bagaimana mungkin seorang Muslim mengaku mencintai para nabi, tetapi pada saat yang sama merendahkan salah satu nabi yang diwajibkan untuk diimani?
Nabi Isa Bukan Tokoh Asing dalam Islam
Bagi seorang Muslim, Nabi Isa bukanlah figur asing yang hanya dikenal oleh umat Kristen. Beliau adalah bagian dari rukun iman Islam sendiri. Seorang Muslim tidak dianggap beriman sampai ia mengimani seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah, tanpa membeda-bedakan kedudukan mereka dalam hal kenabian.
Al-Qur'an menyebut Nabi Isa dengan penuh penghormatan. Beliau lahir melalui mukjizat yang luar biasa, memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah, dan termasuk hamba pilihan yang diberikan berbagai mukjizat.
Bahkan dalam banyak ayat, Al-Qur'an membela kehormatan Nabi Isa dan ibunya, Maryam, dari berbagai tuduhan yang dilontarkan oleh kaum yang menentang mereka. Jika Allah sendiri menjaga kehormatan Nabi Isa dalam Al-Qur'an, maka sungguh aneh apabila ada orang yang mengaku Muslim justru merendahkan beliau demi memenangkan perdebatan di internet.
Kesalahan yang Berasal dari Ketidaktahuan
Sebagian orang mungkin tidak bermaksud menghina Nabi Isa secara langsung. Mereka sebenarnya sedang berusaha menyerang keyakinan tertentu tentang Yesus. Namun karena kurang memahami batas-batas adab dan akidah Islam, kritik terhadap suatu ajaran berubah menjadi penghinaan terhadap pribadi seorang nabi.
Padahal Islam mengajarkan bahwa seorang Muslim harus mampu membedakan antara membantah sebuah keyakinan dan menghina tokoh yang diyakini oleh pihak lain.
Nabi Muhammad ï·º sendiri tidak pernah mengajarkan umatnya untuk mencela para nabi terdahulu. Sebaliknya, beliau mengajarkan penghormatan kepada seluruh rasul yang diutus Allah.
Karena itu, ketika seseorang membuat gambar yang merendahkan Nabi Isa, menjadikan beliau bahan olok-olok, atau menggambarkannya dengan cara yang tidak pantas, persoalannya bukan lagi sekadar etika berdiskusi. Persoalan tersebut telah menyentuh wilayah penghormatan terhadap seorang nabi yang dimuliakan dalam Islam.
Pelajaran dari Al-Qur'an tentang Menghormati Perbedaan
BalasHapusAda satu prinsip penting yang sering terlupakan ketika perdebatan agama memanas.
Allah berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 108 agar kaum Muslim tidak mencela sembahan yang disembah oleh orang lain. Alasannya sederhana namun sangat mendalam: tindakan tersebut hanya akan memancing balasan berupa penghinaan terhadap Allah karena kebodohan dan emosi.
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak membangun dakwahnya di atas penghinaan. Bahkan terhadap objek ibadah agama lain pun, seorang Muslim diperintahkan menjaga lisannya. Apalagi terhadap seorang nabi yang diakui dan dihormati oleh Islam sendiri.
Jika Islam melarang penghinaan terhadap sembahan agama lain demi menjaga adab dan kemaslahatan, maka penghinaan terhadap Nabi Isa tentu lebih tidak dapat dibenarkan lagi.
Dakwah yang Kuat Tidak Membutuhkan Ejekan
Ada anggapan bahwa semakin keras seseorang menyerang lawannya, semakin kuat pula argumennya. Padahal kenyataannya sering kali justru sebaliknya.
Argumen yang kuat berdiri di atas ilmu.
Argumen yang lemah sering mencari bantuan dari ejekan.
Sejarah para nabi menunjukkan bahwa kebenaran tidak ditegakkan dengan penghinaan, melainkan dengan hikmah, kesabaran, dan penjelasan yang baik. Nabi Muhammad ï·º menghadapi berbagai tuduhan dan fitnah, tetapi beliau tidak mengajarkan umatnya untuk membalas dengan merendahkan para nabi atau tokoh agama lain.
Karena itu, apabila tujuan seseorang adalah membela Islam, maka cara yang paling Islami bukanlah dengan membuat konten yang menghina Yesus. Cara yang lebih terhormat adalah menjelaskan apa yang diyakini Islam tentang Nabi Isa dengan ilmu, adab, dan penghormatan yang layak.
Sebuah Renungan untuk Kita Semua
Sebelum membagikan sebuah meme, membuat sebuah video, atau menulis komentar tentang Yesus, mungkin ada baiknya seorang Muslim bertanya kepada dirinya sendiri:
"Jika sosok yang sedang saya ejek ini adalah Nabi Isa Alaihis Salam yang disebut mulia dalam Al-Qur'an, apakah Allah akan meridhai tindakan saya?"
Pertanyaan sederhana itu mungkin cukup untuk menghentikan banyak bentuk penghinaan yang lahir dari ketidaktahuan.
Pada akhirnya, harus kita sadari bahwa membela Islam tidak berarti merendahkan nabi yang lain. Justru salah satu bukti keindahan Islam adalah kemampuannya mengajarkan umatnya untuk menghormati seluruh nabi yang diutus Allah.
Dan di antara para nabi yang wajib dihormati itu, terdapat Nabi Isa Alaihis Salam — seorang hamba Allah yang mulia, seorang rasul pilihan, dan sosok yang tidak pantas dijadikan bahan ejekan oleh siapa pun yang mengaku beriman kepada ajaran Islam.